Bogor [14/4/2025] – Pariwisata Kota Bogor. Dunia perhotelan di Kota Bogor tengah menghadapi krisis yang mengkhawatirkan. Dua hotel yang sudah lama beroperasi kini terancam gulung tikar akibat rendahnya tingkat okupansi kamar yang tak kunjung pulih. Kondisi ini menjadi alarm keras bagi keberlangsungan industri pariwisata dan ekonomi kreatif di kota hujan.
Menurut informasi yang dihimpun, penurunan okupansi disebabkan oleh sejumlah faktor, mulai dari ketatnya kompetisi harga, tren akomodasi alternatif seperti homestay dan sewa harian, hingga masih belum optimalnya jumlah kunjungan wisatawan pasca pandemi.

Data dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bogor menunjukkan bahwa okupansi rata-rata hotel di Kota Bogor saat ini hanya berkisar 30 hingga 40 persen, jauh di bawah ambang batas kelayakan operasional yang idealnya mencapai 60 persen.
Ketua PHRI Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay, menyatakan keprihatinannya terhadap situasi ini.
“Kami mencatat ada dua hotel yang sangat berat secara operasional. Kalau dalam waktu dekat tidak ada intervensi atau dukungan, mereka bisa menutup usahanya. Ini bukan hanya masalah hotel, tapi juga menyangkut nasib para pekerja dan UMKM yang menggantungkan hidup dari sektor ini,” ujarnya.
Baca Juga : DPRD Kota Bogor Dorong Langkah Strategis Antisipasi Dampak Tarif Impor AS terhadap UMKM Lokal
Yuno juga menekankan pentingnya langkah kolaboratif antara pemerintah dan pelaku usaha untuk menghidupkan kembali gairah pariwisata Bogor.
“Kami berharap Pemerintah Kota Bogor segera menggelar event-event besar yang mampu menarik kunjungan. Selain itu, stimulus pajak atau relaksasi retribusi juga bisa menjadi bentuk dukungan nyata yang sangat kami butuhkan,” tambahnya.
Sejumlah pelaku usaha menilai bahwa strategi promosi pariwisata harus dikemas lebih modern dan adaptif, dengan memanfaatkan media sosial, digital marketing, hingga kolaborasi bersama travel influencer. Tanpa langkah nyata, dikhawatirkan kondisi ini akan menimbulkan efek domino seperti PHK massal, turunnya pendapatan asli daerah (PAD), serta merosotnya ekonomi pelaku usaha di sekitar kawasan hotel.
Bogor membutuhkan gerakan penyelamatan pariwisata. Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, Kota Bogor bisa kehilangan salah satu sumber ekonomi utamanya yang selama ini menjadi andalan dan kebanggaan.
Pariwisata Kota Bogor









