KH Sholeh Iskandar: Ulama Pejuang dan Pahlawan dari Bogor. Di Kota Bogor yang dikenal dengan kesejukan dan hijaunya alam, lahir seorang ulama dan pahlawan nasional yang membawa sinar harapan bagi umat dan bangsa. Kiai Haji Sholeh Iskandar, lahir pada 22 Juni 1922, adalah putra dari pasangan H. Muhammad Arif dan Hj. Atun Halimah. Sejak kecil, Sholeh dibesarkan dalam lingkungan yang religius dan penuh kasih sayang. Kehidupannya ditandai oleh dedikasi yang kuat terhadap agama, semangat nasionalisme, dan kepedulian kepada sesama, yang kelak menjadikannya seorang tokoh penting dalam sejarah bangsa Indonesia.
Sholeh kecil menempuh pendidikan di Isamawiyah Ittihadul Islamiyah di Sukabumi, menyelesaikannya pada tahun 1932, kemudian melanjutkan pendidikan di Aliyah Ittihadul Islamiyah yang selesai pada tahun 1941. Dari masa pendidikannya, sudah tampak bahwa beliau memiliki kecerdasan dan ketekunan yang luar biasa. Sejak dini, Sholeh tak hanya belajar mengenai ilmu agama, tetapi juga menyerap nilai-nilai keberanian dan nasionalisme yang tertanam dalam keluarga dan lingkungannya.

Ketika bangsa Indonesia berjuang untuk lepas dari belenggu penjajahan, KH Sholeh Iskandar menjadi salah satu tokoh yang terjun langsung dalam perjuangan. Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, beliau bergabung dalam militer dan menjadi Komandan Yon IV, Brigade Tirtayasa Divisi Siliwangi dari tahun 1947 hingga 1950. Perannya dalam memimpin pasukan ini menunjukkan ketangguhan dan kecakapan beliau dalam strategi militer, sebuah bukti bahwa semangat keulamaan dan kepahlawanannya berjalan seiring. Saat banyak pemuda ragu menghadapi ancaman Belanda, Sholeh maju sebagai pemimpin, menginspirasi keberanian di hati para prajuritnya.
Setelah Indonesia berhasil mempertahankan kemerdekaan, KH Sholeh Iskandar memutuskan untuk keluar dari dinas ketentaraan pada tahun 1950, dengan pangkat terakhir sebagai Mayor. Keputusannya ini tidak berarti bahwa beliau berhenti berjuang, tetapi ia memilih jalur lain untuk melanjutkan kontribusinya terhadap bangsa. KH Sholeh kemudian mendirikan Pesantren Darul Muttaqien di atas tanah wakaf seluas 1,8 hektar dari H. Mohamad Nahar. Pesantren ini menjadi tempat di mana ilmu agama dan kebangsaan ditanamkan, sebuah pusat pendidikan yang hingga kini terus melahirkan generasi yang cinta agama dan tanah air.
KH Sholeh Iskandar: Ulama Pejuang dan Pahlawan dari Bogor
Selain mendirikan pesantren, KH Sholeh Iskandar juga mempelopori pendirian Museum Perdjoangan Bogor bersama rekan-rekannya. Museum yang terletak di Jalan Cikeumeuh No. 28, yang kini dikenal sebagai Jalan Merdeka, Bogor, ini menjadi saksi bisu perjalanan perjuangan rakyat Bogor dan sekitarnya dalam merebut kemerdekaan. Museum tersebut dibangun sebagai penghargaan bagi mereka yang telah berkorban demi kemerdekaan, dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi berikutnya tentang betapa berharganya kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata.
Pada tahun yang sama ketika ia keluar dari militer, KH Sholeh Iskandar juga menunjukkan kepeduliannya terhadap kesejahteraan masyarakat dengan membangun perumahan modern di Desa Pasarean, Pamijahan, Bogor. Proyek perumahan ini mendapatkan penghargaan dari UNESCO, yang mencerminkan betapa besar kontribusi beliau dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. KH Sholeh memahami bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang mengusir penjajah, tetapi juga bagaimana membangun kehidupan yang layak bagi setiap warga negara.
Dalam menjalankan peran sebagai ulama dan pemimpin, KH Sholeh Iskandar dikenal sebagai sosok yang baik hati, tawadhu, dan istiqomah. Beliau tidak hanya dihormati karena ilmu dan peranannya, tetapi juga karena kesederhanaannya. Meski berhak menyandang gelar ulama besar dan bahkan panggilan Kyai Haji, beliau lebih suka dipanggil dengan namanya tanpa gelar. Sikap ini mencerminkan ketulusan dan kerendahan hati yang membuatnya semakin dihormati dan dicintai oleh masyarakat dari berbagai kalangan.
Keteguhan KH Sholeh Iskandar dalam berjuang membela bangsa, negara, dan agama tidak pernah luntur sepanjang hidupnya. Beliau tidak pernah tinggal diam melihat penderitaan rakyat yang diakibatkan oleh penjajahan dan ketidakadilan. Ia selalu berada di garda depan, baik dalam pertempuran melawan penjajah maupun dalam membina umat setelah kemerdekaan diraih. Sebagai seorang ulama, beliau selalu berusaha menjadi pemersatu umat, diterima oleh semua kalangan, baik kawan maupun lawan. Kepribadiannya yang tegas terhadap kaum kafirin tetapi lembut terhadap sesama muslim membuatnya menjadi teladan yang sangat dihormati.
Pada 22 April 1992, KH Sholeh Iskandar wafat, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Bogor, Jawa Barat, dan Indonesia pada umumnya. Kehilangan beliau adalah kehilangan seorang pemimpin yang berpegang teguh pada kebenaran, seorang penggerak umat yang tak kenal lelah, dan seorang ulama yang selalu berada di barisan depan dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Meski beliau telah tiada, warisan perjuangan dan nilai-nilai yang beliau tanamkan akan selalu hidup di hati masyarakat.
Nama KH Sholeh Iskandar diabadikan sebagai salah satu jalan utama di Kota Bogor, sebagai penghormatan atas segala jasa-jasanya. Setiap kali melewati jalan ini, masyarakat diingatkan pada sosok ulama yang tidak pernah gentar menghadapi tantangan zaman. Beliau hidup dalam tiga zaman – zaman Belanda, zaman Jepang, dan zaman Kemerdekaan – dan di setiap masa tersebut, KH Sholeh Iskandar menunjukkan keteladanan sebagai pejuang yang istiqomah, pemimpin yang tawadhu, dan ulama yang berjuang tanpa pamrih. Beliau adalah pelita yang tak pernah padam, menerangi jalan perjuangan dan inspirasi bagi generasi yang akan datang.
Museum Perdjoangan Bogor dan Pesantren Darul Muttaqien adalah sebagian dari warisan yang beliau tinggalkan, menjadi bukti nyata dari ketulusan perjuangannya dalam membangun masyarakat yang berilmu dan beriman. Beliau adalah teladan bagi kita semua bahwa perjuangan tidak pernah usai, bahwa kemerdekaan harus selalu diisi dengan kebaikan, ketulusan, dan usaha untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh bangsa. KH Sholeh Iskandar telah menorehkan kisah yang akan selalu dikenang, kisah tentang seorang ulama dan pahlawan yang hidupnya dipersembahkan untuk umat dan negara.










6 Komentar
Tes komentar
Keren asli
Test
Tes komenetarrrrrr
Tes kolom komentar
Cek kembali